Suntia Rasestia Anggraini
Program
Studi S1 Farmasi
STIKES
BORNEO LESTARI
PENDAHULUAN
Tahukah kalian apa itu kanker ? Kanker
merupakan salah satu dari penyakit degeneratif yang sangat ditakuti
keberadannya oleh masyarakat. Namun, akankah masyarakat sadar dengan pencegahan
kanker itu sendiri? Semua orang pasti takut terjangkit penyakit kanker, tetapi
tidak semua orang melakukan tindakan preventif yang benar terhadap pencegahan
kanker.
Kanker
merupakan penyakit yang ditandai pertumbuhan sel yang abnormal dan tidak
terkendali. Penyebab kanker terbagi atas faktor endogen dan faktor eksogen.
Faktor endogen antara lain gen dan produk-produk gen, hormon dan enzim
tertentu. Sedangkan faktor eksogen bisa berupa radiasi, senyawa kimia
karsinogen (pemicu kanker), dan virus. Penyebab terjadinya kanker salah satunya
adalah karena adanya zat radikal bebas. Radikal bebas dapat dinetralisir dengan
mengkonsumsi bermacam rempah-rempah, buah dan sayuran yang banyak mengandung
antioksidan. Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menetralisir radikal
bebas dengan cara memberikan elektron kepada molekul radikal bebas tanpa
terganggu sama sekali fungsinya. Kanker memiliki berbagai jenis berdasarkan
dimana tempat munculnya, diantaranya kanker payudara, kanker serviks (leher rahim),
kanker paru-paru, kanker usus besar (kolorektal), dan kanker hati.
PEMBAHASAN
Kanker adalah penyakit yang disebabkan
rusaknya mekanisme pengaturan dasar perilaku sel, khususnya mekanisme
pertumbuhan dan diferensiasi sel. Setiap manusia memiliki risiko menderita
kanker karena pengaruh faktor internal maupun eksternal. Kanker menjadi
penyebab kematian kedua dan diprediksi beberapa tahun ke depan akan melampaui
penyakit jantung sebagai penyebab kematian utama saat ini. Penyakit kanker juga
menjadi masalah penyakit serius di Indonesia. Kementerian Kesehatan menyebutkan
prevalensi penyakit kanker mengalami peningkatan dalam lima tahun terakhir.
Ada beberapa faktor penyebab kanker yang
meliputi gaya hidup dan pola makan yang salah. Dewasa ini, banyaknya kejadian
kanker bukan hanya dari keturunan saja, tetapi dari kurangnya latihan fisik,
konsumsi makanan yang tidak sehat, kebiasaan merokok, dan konsumsi alkohol.
Tingginya risiko kanker masih dapat dicegah dengan melakukan perubahan gaya
hidup dan pemilihan makanan yang baik.
Berbicara tentang makanan tentu sangat
penting bagi kehidupan kita. Makanan merupakan kebutuhan primer manusia. Namun,
zaman globalisasi membuat semakin banyak modifikasi makanan yang malah menjadi
penyebab berbagai macam penyakit. Contohnya, makanan junk food dan banyak
makanan instant lainnya yang dijual secara online maupun di toko-toko makanan.
Banyak masyarakat juga yang mempercayai berbagai macam informasi tentang
penyebab kanker yang terkadang tidak terbukti secara ilmiah atau hanya mitos
saja. Sayur dan buah merupakan sumber zat gizi mikro yang diperlukan untuk
metabolisme tubuh, pemeliharaan jaringan, dan zat pengatur dalam tubuh. Serat
dalam sayur dan buah dapat menjadi detoksifikasi untuk mengeluarkan racun dalam
tubuh. Namun, masih banyak masyarakat yang belum menyadari pentingnya sayur dan
buah. WHO (World Health Organization)
menganjurkan konsumsi sayur dan buah sebesar 400 g per orang per hari dengan
komposisi sayur sebanyak 250 g dan buah sebanyak 150 g. Kementerian Kesehatan
telah menetapkan bahwa konsumsi sayur dan buah menjadi indikator sederhana
dalam gizi seimbang. Berdasarkan Pedoman Gizi Seimbang yang telah ditetapkan
oleh Kementerian Kesehatan, konsumsi sayur dan buah harian orang Indonesia sebanyak
300-400 g per orang per hari bagi anak balita dan anak usia sekolah, dan
400-600 g per orang perhari bagi remaja dan orang dewasa. Sekitar dua-pertiga
dari jumlah anjuran konsumsi sayuran dan buah-buahan tersebut adalah porsi
sayur. Sayur dan buah merupakan sumber vitamin dan antioksidan yang mudah
didapat. Namun, jangan sampai sayuran dan buah-buahan yang Anda konsumsi justru
menjadi sumber radikal bebas dalam tubuh akibat proses pemanasan. Beberapa hal
yang menjadi penyebab kerusakan antioksidan, salah satunya dengan cara
penggorengan. Penggorengan pada umumnya menggunakan suhu yang tinggi yakni
berkisar 150˚C-300˚C. Komponen bioaktif seperti flavonoid, tanin, dan fenol
rusak pada suhu diatas 50˚C karena dapat mengalami perubahan struktur serta
menghasilkan ekstrak yang rendah. Kacang-kacangan merupakan sumber protein
nabati yang tentu dibutuhkan oleh tubuh kita. Kacang-kacangan memiliki senyawa bioaktif yang berfungsi sebagai
antioksidan dan antiinflamasi (peradangan) pada pasien kanker. Senyawa
antioksidan pada kacang-kacangan meliputi karotenoid, fitostreol, fenol,
fitoestrogen, dan vitamin E. Selain itu, terdapat zat gizi mikro selenium dan
magnesium yang merupakan komponen utama enzim antioksidan. Bahkan, penelitian
yang dilakukan pada penduduk Jepang dan Cina menunjukkan kandungan isoflavon
pada kacang kedelai mampu menurunkan risiko kanker prostat pada pria. Namun,
konsumsi kacang-kacangan juga harus sesuai dengan kebutuhan harian dan terdapat
pembatasan pada pasien kanker dengan komplikasi ginjal atau hiperurisemia.
Gula, Garam, dan Lemak dibutuhkan oleh tubuh.
Namun, asupan gula, garam, dan lemak berlebih dapat meningkatkan penyakit
degeneratif, utamanya kanker. Batasan konsumsi gula, garam, dan lemak yang
disarankan Kementerian Kesehatan per orang per hari adalah: Gula tidak lebih
dari 50 g (4 sendok makan); Garam tidak melebihi 2000 mg natrium/sodium atau 5
g (1 sendok teh), dan untuk lemak hanya 67 g (5 sendok makan minyak).
Monosodium Glutamat (MSG) juga merupakan salah satu jenis garam yang harus
dibatasi. WHO membatasi penggunaan MSG tidak lebih dari 6 gram per hari.
Daging merupakan bahan makanan sumber protein
hewani dan sumber zat besi yang baik untuk pasien kanker. Pengolahan daging
yang tidak tepat dapat merusak kandungan protein di dalamnya, seperti
pembakaran dan pengasapan. Begitu pula dengan olahan daging awetan seperti
bakso, sosis, nugget, kornet. Proses pengasapan dan pembakaran pada daging
merah dapat menyebabkan munculnya zat karsinogenik: N-nitroso-compounds (NOC), polycyclic
aromatic hydrocarbons (PAH), dan heterocyclic
aromatic amines (HAA).
Sebagian besar jenis kanker dapat dicegah
dengan kebiasaan hidup sehat sejak usia muda dan menghindari faktor-faktor
penyebab kanker. Meskipun penyebab kanker secara pasti belum diketahui, setiap
orang dapat melakukan upaya pencegahan dengan cara hidup sehat dan menghindari
penyebab kanker. Mengurangi makanan berlemak yang berlebihan, lebih banyak
makan makanan berserat, lebih banyak makan sayur-sayuran berwarna serta
buah-buahan, beberapa kali sehari, lebih banyak makan makanan segar, mengurangi
makanan yang telah diawetkan atau disimpan terlalu lama, membatasi minuman
alkohol, hindari diri dari penyakit akibat hubungan seksual, hindari kebiasaan
merokok, upayakan kehidupan seimbang dan hindari stress, periksakan kesehatan
secara berkala dan teratur.
KESIMPULAN
Perkembangan teknologi semakin membuat orang
menjadi malas beraktifitas, apalagi meluangkan sedikit waktunya untuk
berolahraga. Padahal, olahraga dapat membakar lemak dalam tubuh, memperbaiki
sel-sel tubuh, membantu kinerja organ tubuh secara produktif. Bahkan, orang
yang terkena kanker pun juga disarankan melakukan olahraga sesuai dengan
kondisi tubuhnya. Selain itu juga,
hindari beberapa perilaku yang dapat memicu kanker seperti minum alkohol,
merokok (tradisional maupun elektronik). Jalani hidup Anda berdasarkan 4 pilar
Gizi Seimbang.
Referensi:
Basnet, P dan N.S. Basnet. 2011. Curcumin: An Anti-inflammatory Molecule
from s Curry Spice on the Path to Cancer Treatment. Molecules Journal. 16: 4567-4598
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2009. Sistem Kesehatan Nasional.
Jakarta.
Kurniasari, F. N, Leny Budhi Harti, Ayuningtyas Dian Ariestiningsih, Shinta O. Wardhani, Susanto Nugroho. 2018. Buku Ajar Gizi dan Kanker. Malang: Universitas Brawijaya Press
Kurniasari, F. N, Leny Budhi Harti, Ayuningtyas Dian Ariestiningsih, Shinta O. Wardhani, Susanto Nugroho. 2018. Buku Ajar Gizi dan Kanker. Malang: Universitas Brawijaya Press
Sumarni, R. 2006. Karakterisasi
kimiawi dan aktivitas antiproliferasi sel lestari tumor serta aktivitas
fagositosis secara in vitro dari fraksi bioaktif rimpang temu putih (Curcuma
zedoaria Rosc.). Disertasi Doktoral. Bogor: Sekolah Pascasarjana IPB


