Minggu, 28 Juni 2020

KANKER, TAK MENULAR NAMUN MEMATIKAN


Suntia Rasestia Anggraini
Program Studi S1 Farmasi
STIKES BORNEO LESTARI
PENDAHULUAN
Tahukah kalian apa itu kanker ? Kanker merupakan salah satu dari penyakit degeneratif yang sangat ditakuti keberadannya oleh masyarakat. Namun, akankah masyarakat sadar dengan pencegahan kanker itu sendiri? Semua orang pasti takut terjangkit penyakit kanker, tetapi tidak semua orang melakukan tindakan preventif yang benar terhadap pencegahan kanker.
Kanker merupakan penyakit yang ditandai pertumbuhan sel yang abnormal dan tidak terkendali. Penyebab kanker terbagi atas faktor endogen dan faktor eksogen. Faktor endogen antara lain gen dan produk-produk gen, hormon dan enzim tertentu. Sedangkan faktor eksogen bisa berupa radiasi, senyawa kimia karsinogen (pemicu kanker), dan virus. Penyebab terjadinya kanker salah satunya adalah karena adanya zat radikal bebas. Radikal bebas dapat dinetralisir dengan mengkonsumsi bermacam rempah-rempah, buah dan sayuran yang banyak mengandung antioksidan. Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menetralisir radikal bebas dengan cara memberikan elektron kepada molekul radikal bebas tanpa terganggu sama sekali fungsinya. Kanker memiliki berbagai jenis berdasarkan dimana tempat munculnya, diantaranya kanker payudara, kanker serviks (leher rahim), kanker paru-paru, kanker usus besar (kolorektal), dan kanker hati.
PEMBAHASAN
Kanker adalah penyakit yang disebabkan rusaknya mekanisme pengaturan dasar perilaku sel, khususnya mekanisme pertumbuhan dan diferensiasi sel. Setiap manusia memiliki risiko menderita kanker karena pengaruh faktor internal maupun eksternal. Kanker menjadi penyebab kematian kedua dan diprediksi beberapa tahun ke depan akan melampaui penyakit jantung sebagai penyebab kematian utama saat ini. Penyakit kanker juga menjadi masalah penyakit serius di Indonesia. Kementerian Kesehatan menyebutkan prevalensi penyakit kanker mengalami peningkatan dalam lima tahun terakhir.
Ada beberapa faktor penyebab kanker yang meliputi gaya hidup dan pola makan yang salah. Dewasa ini, banyaknya kejadian kanker bukan hanya dari keturunan saja, tetapi dari kurangnya latihan fisik, konsumsi makanan yang tidak sehat, kebiasaan merokok, dan konsumsi alkohol. Tingginya risiko kanker masih dapat dicegah dengan melakukan perubahan gaya hidup dan pemilihan makanan yang baik.
Berbicara tentang makanan tentu sangat penting bagi kehidupan kita. Makanan merupakan kebutuhan primer manusia. Namun, zaman globalisasi membuat semakin banyak modifikasi makanan yang malah menjadi penyebab berbagai macam penyakit. Contohnya, makanan junk food dan banyak makanan instant lainnya yang dijual secara online maupun di toko-toko makanan. Banyak masyarakat juga yang mempercayai berbagai macam informasi tentang penyebab kanker yang terkadang tidak terbukti secara ilmiah atau hanya mitos saja. Sayur dan buah merupakan sumber zat gizi mikro yang diperlukan untuk metabolisme tubuh, pemeliharaan jaringan, dan zat pengatur dalam tubuh. Serat dalam sayur dan buah dapat menjadi detoksifikasi untuk mengeluarkan racun dalam tubuh. Namun, masih banyak masyarakat yang belum menyadari pentingnya sayur dan buah. WHO (World Health Organization) menganjurkan konsumsi sayur dan buah sebesar 400 g per orang per hari dengan komposisi sayur sebanyak 250 g dan buah sebanyak 150 g. Kementerian Kesehatan telah menetapkan bahwa konsumsi sayur dan buah menjadi indikator sederhana dalam gizi seimbang. Berdasarkan Pedoman Gizi Seimbang yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan, konsumsi sayur dan buah harian orang Indonesia sebanyak 300-400 g per orang per hari bagi anak balita dan anak usia sekolah, dan 400-600 g per orang perhari bagi remaja dan orang dewasa. Sekitar dua-pertiga dari jumlah anjuran konsumsi sayuran dan buah-buahan tersebut adalah porsi sayur. Sayur dan buah merupakan sumber vitamin dan antioksidan yang mudah didapat. Namun, jangan sampai sayuran dan buah-buahan yang Anda konsumsi justru menjadi sumber radikal bebas dalam tubuh akibat proses pemanasan. Beberapa hal yang menjadi penyebab kerusakan antioksidan, salah satunya dengan cara penggorengan. Penggorengan pada umumnya menggunakan suhu yang tinggi yakni berkisar 150˚C-300˚C. Komponen bioaktif seperti flavonoid, tanin, dan fenol rusak pada suhu diatas 50˚C karena dapat mengalami perubahan struktur serta menghasilkan ekstrak yang rendah. Kacang-kacangan merupakan sumber protein nabati yang tentu dibutuhkan oleh tubuh kita. Kacang-kacangan memiliki senyawa bioaktif yang berfungsi sebagai antioksidan dan antiinflamasi (peradangan) pada pasien kanker. Senyawa antioksidan pada kacang-kacangan meliputi karotenoid, fitostreol, fenol, fitoestrogen, dan vitamin E. Selain itu, terdapat zat gizi mikro selenium dan magnesium yang merupakan komponen utama enzim antioksidan. Bahkan, penelitian yang dilakukan pada penduduk Jepang dan Cina menunjukkan kandungan isoflavon pada kacang kedelai mampu menurunkan risiko kanker prostat pada pria. Namun, konsumsi kacang-kacangan juga harus sesuai dengan kebutuhan harian dan terdapat pembatasan pada pasien kanker dengan komplikasi ginjal atau hiperurisemia.
Gula, Garam, dan Lemak dibutuhkan oleh tubuh. Namun, asupan gula, garam, dan lemak berlebih dapat meningkatkan penyakit degeneratif, utamanya kanker. Batasan konsumsi gula, garam, dan lemak yang disarankan Kementerian Kesehatan per orang per hari adalah: Gula tidak lebih dari 50 g (4 sendok makan); Garam tidak melebihi 2000 mg natrium/sodium atau 5 g (1 sendok teh), dan untuk lemak hanya 67 g (5 sendok makan minyak). Monosodium Glutamat (MSG) juga merupakan salah satu jenis garam yang harus dibatasi. WHO membatasi penggunaan MSG tidak lebih dari 6 gram per hari.
Daging merupakan bahan makanan sumber protein hewani dan sumber zat besi yang baik untuk pasien kanker. Pengolahan daging yang tidak tepat dapat merusak kandungan protein di dalamnya, seperti pembakaran dan pengasapan. Begitu pula dengan olahan daging awetan seperti bakso, sosis, nugget, kornet. Proses pengasapan dan pembakaran pada daging merah dapat menyebabkan munculnya zat karsinogenik: N-nitroso-compounds (NOC), polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH), dan heterocyclic aromatic amines (HAA).
Sebagian besar jenis kanker dapat dicegah dengan kebiasaan hidup sehat sejak usia muda dan menghindari faktor-faktor penyebab kanker. Meskipun penyebab kanker secara pasti belum diketahui, setiap orang dapat melakukan upaya pencegahan dengan cara hidup sehat dan menghindari penyebab kanker. Mengurangi makanan berlemak yang berlebihan, lebih banyak makan makanan berserat, lebih banyak makan sayur-sayuran berwarna serta buah-buahan, beberapa kali sehari, lebih banyak makan makanan segar, mengurangi makanan yang telah diawetkan atau disimpan terlalu lama, membatasi minuman alkohol, hindari diri dari penyakit akibat hubungan seksual, hindari kebiasaan merokok, upayakan kehidupan seimbang dan hindari stress, periksakan kesehatan secara berkala dan teratur.
KESIMPULAN
Perkembangan teknologi semakin membuat orang menjadi malas beraktifitas, apalagi meluangkan sedikit waktunya untuk berolahraga. Padahal, olahraga dapat membakar lemak dalam tubuh, memperbaiki sel-sel tubuh, membantu kinerja organ tubuh secara produktif. Bahkan, orang yang terkena kanker pun juga disarankan melakukan olahraga sesuai dengan kondisi tubuhnya.  Selain itu juga, hindari beberapa perilaku yang dapat memicu kanker seperti minum alkohol, merokok (tradisional maupun elektronik). Jalani hidup Anda berdasarkan 4 pilar Gizi Seimbang.





Referensi:
Basnet, P dan N.S. Basnet. 2011. Curcumin: An Anti-inflammatory Molecule from s Curry Spice on the Path to Cancer Treatment. Molecules Journal. 16: 4567-4598
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2009. Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta.
Kurniasari,
F. N, Leny Budhi Harti, Ayuningtyas Dian Ariestiningsih, Shinta O. Wardhani, Susanto Nugroho. 2018. Buku Ajar Gizi dan Kanker. Malang: Universitas Brawijaya Press
Sumarni, R. 2006. Karakterisasi kimiawi dan aktivitas antiproliferasi sel lestari tumor serta aktivitas fagositosis secara in vitro dari fraksi bioaktif rimpang temu putih (Curcuma zedoaria Rosc.). Disertasi Doktoral. Bogor: Sekolah Pascasarjana IPB



Selasa, 07 April 2020

Membuat Kutipan dan Daftar Pustaka dari E-mail


Halo guys 😆
Kembali lagi di blog aku nih. Bagaimana keadaan kalian ? Semoga tetap baik-baik saja ya ditengah pandemi COVID-19 ini dan semoga pandemi ini segera berlalu, aamiin. 
     Pada kesempatan kali ini, aku dan teman-teman ku dari membuat tutorial cara membuat kutipan dan daftar pustaka dari materi yang kita dapat di email teman atau kolega kita. Mohon disimak ya teman-teman. Aku sarankan menggunakan earphone, headphone, ataupun headset agar kalian lebih mendengar penjelasan dari kami. Selamat menyaksikan 😊
Kelompok 9
1.       Annisa Noor Fedya
2.       Evita Ariyani
3.       Suntia Rasestia Anggraini
4.       M. Aldi Rahman

Jumat, 20 Maret 2020

Si Kecil Kunyit Putih Sebagai Anti Kanker

Halo guys, selamat datang di blog aku 😊
Untuk blog perdana aku, aku akan menulis artikel tentang salah satu tanaman yang mungkin hanya segelintir orang yang mengetahuinya. Padahal tanaman ini masih satu keluarga dengan kunyit yang mana kunyit sendiri adalah tanaman yang umum berada di masyarakat.
Sebelumnya, aku mau nanya nih sama kalian apa sih yang kalian tau tentang kunyit? Seperti yang kita tau, kunyit adalah salah satu bahan alami yang biasanya dipakai untuk bahan dapur sebagai bumbu masakan. Tapi ternyata kunyit sendiri mempunyai berbagai khasiat loh, yuk kita bahas lebih lanjut...
Gambar 1. Kunyit (Curcuma longa)
Sumber Gambar: https://jogja.tribunnews.com/
Tanaman ini adalah kunyit putih atau di beberapa tempat disebut dengan temu putih. Kunyit putih yang memiliki nama ilmiah Curcuma zedoaria adalah sejenis tumbuhan dari keluarga Zingiberaceae yang sangat penting dalam pengobatan tradisional dan industri obat. Beberapa jenis kunyit telah lama menjadi komoditas perdagangan dunia. Kebutuhan kunyit dunia hingga saat ini mencapai ratusan ribu ton/tahun yang dipenuhi oleh negara negara tropis seperti India, Haiti, Srilanka, Cina, dan Indonesia. Kalian tau kenapa bisa seperti itu ? Menurut Saefudin (2014) hal ini dikarenakan kandungan minyak atsiri dan beberapa zat lain yang terdapat di dalam kunyit putih.
Klasifikasi kunyit putih (Ayunda, 2014)
Divisi      : Spermathopyta
Subdivisi   : Angiospermae
Kelas      : Monocotyledonae
Ordo      : Zingiberales
Famili     : Zingiberaceae
Genus     : Curcuma
Spesies    : Curcuma zedoaria
Gambar 2. Kunyit putih (Curcuma zedoaria)
Sumber Gambar: Healthy Builderz
Tanaman jenis herbaceous dan rhizomatous ini merupakan tanaman terna tahunan, tinggi mencapai 1 meter, tumbuh membentuk rumpun. Batang semu tegak, umbi dan cabang silindris bawah tanah atau rimpang. Tunas umbi dan tunas rimpang muncul di atas tanah sebagai perbungaan. Daun memanjang berwarna merah di sepanjang tulang tengahnya. Tidak ada bunga tambahan tetapi tunas vegetatif yang lebih berkembang menjulang ke atas membentuk bongkol bunga yang besar, mahkota bunga berwarna putih, dengan tepi bergaris merah tipis, rimpang berwarna putih, rasa sangat pahit (Ayunda, 2014).

Gambar 3. Tanaman kunyit putih
Sumber Gambar: http://bisnisbali.com/
Kandungan kimia rimpang kunyit putih terdiri dari minyak astiri, polisakarida dan kurkuminoid. Kandungan kurkuminoid pada kunyit putih berupa kurkumin (77%), demetoksikurkumin (18%), bisdemetoksikurkumin (5%). Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan Basnet dan Basnet (2011), ekstrak rimpang kunyit putih menunjukkan adanya aktivitas penghambatan karsinogenesis (proses ketika sel normal brerubah menjadi sel kanker). Selain itu, komponen bioaktif dalam genus Curcuma yang diketahui mempunyai efek sitotoksik terhadap OVCAR-3 (human ovarian cancer cells) dan secara tradisional digunakan sebagai pengobatan kanker mulut rahim (Saefudin, 2014).
Dalam pengobatan tradisional, biasanya yang dikonsumsi dari air perasannya. Umumnya dilakukan dengan cara menyediakan 20 g rimpang kunyit dan 100 ml air matang. Lalu bersihkan kunyit dengan cara dicuci oleh air hangat dan parut hingga habis dan mengeluarkan sarinya. Kemudian campurkan hasil parutan tersebut dengan 100 ml air dan peras hingga ampasnya terpisah dari air.
Cara lain memanfaatkan ekstrak rimpang Curcuma zedoaria adalah dengan membersihkan kunyit putih dari kotoran kemudian bersihkan kulitnya. Lalu, kunyit putih dirajang (iris tipis-tipis) dan keringkan dibawah sinar matahari, atau jika ingin lebih cepat gunakanlah oven. Setelah kunyit putih kering, kunyit ditumbuk atau diblender hingga menjadi bubuk. Bubuk yang di dapat kemudian diambil sebanyak 200 gram yang dipanaskan dengan air sebanyak 500 ml pada suhu 100˚C selama kurang lebih satu jam atau kira-kira volume yang tersisa sebanyak 100ml. Setelah itu, bahan didinginkan, kemudian disaring.
Sekian dulu artikel dariku, terima kasih guys dan semoga bermanfaat 😃

Referensi
Saefudin. Fauzia Syarif Dan Chairul. 2014. Potensi Antioksidan Dan Aktivitas Antiproliferasi Ekstrak Kunyit Putih (Curcuma Zedoaria Rosc.) Pada Sel Hela. Jurnal Widyariset. Vol. 17 No. 3
Ayunda, Rizka Fidyah. 2014. Pola Waktu Pemberian Ekstrak Rimpang Kunyit Putih (Curcuma Zedoaria) Terhadap Histopatologi Paru Mencit (Mus Musculus) Yang Diinduksi Benzo[α]piren. Skripsi. Tidak Diterbitkan. Surabaya: Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga
Basnet, P. and N.S. Basnet. 2011. Curcumin: An Anti-Inflammatory Molecule from a Curry Spice on the Path to Cancer Treatment. Molecules. 16: 4567- 4598.